Beranda > Dunia Kesehatan, Islam Agamaku > Pak Darmo, Legenda Bong Supit dari Kotagede

Pak Darmo, Legenda Bong Supit dari Kotagede

Sudah lama ingin memposting cuplikan kisah tentang “Bong Supit Pak Darmo” akhirnya baru kesampaian detik ini…

Pak Darmo, Legenda Bong Supit dari Kotagede
Buka Sejak Zaman Belanda, Sunat Sejumlah Tokoh

Di Kotagede terdapat rumah yang menjadi saksi bisu peristiwa pemotongan kulit manusia. Pemotongan itu sendiri telah berlangsung secara terus-menerus sejak zaman penjajahan Belanda. Dan, pemotongan yang dilakukan orang berbeda itu masih terjadi sampai sekarang. Lho?

SUASANA rumah besar yang terletak di Jalan Pasarean 4 Kotagede itu tampak sepi. Yang terlihat hanya beberapa orang yang sedang membersihkan halaman. Salah satu ruangan yang selalu terlihat bersih itu berada di bagian selatan. Ruangan yang menghadap utara itu menjadi saksi bisu terjadinya pemotongan ribuan, bahkan puluhan ribu kulit manusia yang rata-rata berusia sekolah dasar (SD) hingga SMP. Rumah itu adalah tempat kediaman Pak Darmo, bong supit atau tukang khitan yang namanya populer pada masa penjajahan Belanda.

Namun, nama Pak Darmo kini tinggal kenangan. Sebab, ia telah meninggal dunia tahun 1997 karena faktor usia Dia sendiri kali terakhir mengkhitankan bocah pada tahun 1995. Kini, kepiawaian Pak Darmo sebagai juru sunat itu diteruskan anak-anaknya. Pak Darmo sendiri lahir tahun 1905. Dia dikaruniai 15 anak. Dari jumlah itu, sembilan anaknya laki-laki, enam perempuan.

“Kami tetap melanjutkan apa yang telah dilakukan bapak,” tutur Ir Nurcahyo Wiyono MM, salah satu anaknya kepada Radar Jogja, kemarin. Selain Nurcahyo, saudara kandungnya yang juga jago mengkhitan adalah Joko Waluyo. Menariknya, Nurcahyo selama ini tinggal di Kalimantan Barat. Sedangkan Joko tinggal di Surabaya. “Kebetulan kami sedang ada acara di Jogja,” terang Joko yang bekerja di salah satu perusahaan BUMN. Meski demikian, saat di Jogja keduanya menyempatkan diri menjadi bong supit.

Tak berlebihan bila keluarga Pak Darmo menjadi legenda dunianya bong supit. Betapa tidak, pekerjaan itu telah dilakoni selama 76 tahun lebih. Awal Pak Darmo menjadi bong supit bermula ketika sebelum masa penjajahan Belanda, rumahnya menjadi kantor Palang Merah Indonesia (PMI). Waktu itu, tahun 1930. Otomatis, Pak Darmo berkumpul dan bergaul dengan para mantri kesehatan. Hingga akhirnya, Pak Darmo menjadi orang yang piawai menyunat.

Dalam perjalanannya, Bong Supit Pak Darmo pernah menyunat tokoh-tokoh nasional, termasuk orang-orang penting di Jogja. Nurcahyo dan Joko menyebut nama-nama tokoh itu secara bergantian. Namun, keduanya meminta nama-nama tokoh yang disebutkan tidak diberitakan. “Janganlah. Nggak etis,” pinta Joko. Selain tokoh, Pak Darmo juga menyunat tokoh-tokoh lokal dan sejumlah pelawak beken. Antara lain, almarhum Edy Sud. Saat menjadi bong supit, Pak Darmo dan anak-anaknya mengedepankan ibadah dan aspek sosial.

Dalam pandangan Pak Darmo, menyunat merupakan pekerjaan yang baik. Mengapa? “Karena mengislamkan orang,” kata Nurcahyo menirukan pesan ayahnya. Saat itu, Pak Darmo menggunakan alat gunting dalam menyunat. Namun, seiring perkembangan teknologi, alat-alat itu tidak dibutuhkan lagi. Kini, Bong Supit Pak Darmo mengoperasikan alat modern dalam menyunat. Alat yang digunakan untuk memotong tidak lagi menggunakan gunting, tapi sinar laser.

Penggunaan sinar laser terbukti mampu meminimalkan rasa sakit yang diderita pasien. Karena saat sinar tersebut dioperasikan, kulit tidak mengeluarkan darah. Lantas, berapa orang yang disunat setiap harinya? Hingga tahun 80-an, bocah yang disunat mencapai puluhan orang per hari. Karena waktu itu, patokan untuk menyunat menggunakan kalender Jawa.

Tetapi, para orangtua sekarang menyunatkan anak-anaknya pada liburan sekolah. Itulah sebabnya, bocah yang disunat ketika sekolah tidak libur, tidak banyak. Jumlahnya 2-3 orang per hari. Namun, saat liburan sekolah, jumlahnya mencapai ratusan orang per hari. ***

AZAM S ADHAM, Jogja
Kamis, 21 Des 2006
© Copyright 2006, Radar Jogja

keterangan gambar : diambil & diolah diluar sumber berita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: