Beranda > Seni & Budaya > Siapakah Penonton Wayang Kulit Purwa?

Siapakah Penonton Wayang Kulit Purwa?

Judul dan tulisan yang menarik untuk kita baca dan pahami, dimana saat sekarang ini dengan beragamnya tontonan di era serba bisa dan mudahnya orang mendapatkan tontonan baik dari televisi ataupun vcd/dvd player yang semakin murah, tidak harus datang berbondong-bondong ke pertunjukan.

Tulisan diambil dari website bentara budaya berikut ini :

Siapakah Penonton Wayang Kulit Purwa?

Catatan kecil tentang pencerapan nilai-nilai moral wayang oleh penontonnya
Oleh: Yanusa Nugroho

01. Pertanyaan sederhana yang tertulis di atas sebagai judul, sebenarnya sudah sering kita dengar. Kira-kira 10-15 tahun yang lalu, ketika penulis mengupayakan sebuah pementasan wayang di Jakarta, ada pertanyaan sederhana yang muncul dari calon sponsor. Inti pertanyaan tersebut adalah dari golongan “kelas A, B, C atau D kah penonton wayang kulit? Ini penting bagi sponsor, karena berkaitan dengan target market brand/ produk mereka.

Hal seperti tersebut di atas tentu bukan sesuatu yang aneh untuk saat ini. Dan hal ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan wayang kulit purwa memang sudah memasuki ‘era marketing ‘.

02. Ilustrasi di atas tentunya tidak berlaku pada setiap pertunjukan wayang kulit di berbagai daerah dan semua tujuan kepentingan pementasan. Akan tetapi, yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa sejak zaman Jawa Kuna hingga hari ini, pementasan wayang kulit adalah tontonan masal, baik untuk tujuan ritual maupun social-politik.[1]

03. Penulis merasa perlu mencermati ‘era marketing’, mengingat bahwa ada ‘proses transformasi’ nilai moral yang terjadi pada setiap pementasan wayang kulit kepada penontonnya. Tentu ‘era marketing’ yang penulis pinjam tersebut bukan dikaitan dengan persoalan sponsor, namun lebih kepada titik focus kepada siapa tontonan tersebut ditujukan dan dengan motif apa seorang penonton mau bertahan menyaksikan pementasan wayang kulit semalam suntuk.

04. Pementasan Wayang Kulit memiliki pesan moral yang perlu disampaikan kepada penontonnya. Diharapkan pesan tersebut bisa diterima dan dihidupkan dalam keseharian masyarakat (penontonnya). Dalam kilasan sejarah, sebagaimana telah dituliskan oleh para ahli, pesan moral (baik-buruk) diungkapkan lewat kisah, dan lebih spesifik lagi melalui pencitraan tokoh wayangnya. Ambil contoh, tokoh Bima—sebagaimana sudah disinggung pada butir 02. Dengan hadirnya pencitraan tersebut diharapkan masyarakat mampu mencerap nilai-nilai keutamaan yang ditawarkan pementasan tersebut melalui lakuan/sikap/dialog sang tokoh. Sekadar ilustrasi, pada era Jawa Kuna Bima dicitrakan sebagai tokoh yang berfisik dahsyat (saja), namun ketika era Jawa Baru terutama setelah masuknya Agama Islam, pencitraan Bima bertambah menjadi ‘manusia yang mampu menemukan jati dirinya’ (dalam lakon Dewa Ruci).

05. Berkaitan dengan pencitraan tokoh wayang untuk ‘sarana’ transformasi nilai moral, maka kita perlu pula menengok motif penonton pementasan tersebut. Jika kita asumsikan motif penonton wayang tersebut adalah ‘mencari nilai-nilai moral’ yang terkandung dalam sebuah pementasan, maka tentunya tak ada persoalan yang perlu kita bicarakan. Akan tetapi, ternyata, bisa kita saksikan bahwa motif seseorang dalam menyaksikan wayang kulit hampir bisa dipastikan ‘mencari hiburan’, ‘sekadar rindu masa lalu’ dan sebagainya, di luar pencarian nilai-nilai moral yang ditawarkan oleh pertunjukan wayang kulit.

06. Dari situasi di atas, kita tak perlu terlalu heran jika melihat adanya “jarak” yang kian melebar antara pementasan wayang dan penontonnya. Juga tak terlalu mengherankan pula jika ada kecenderungan para dalang menciptakan sisi hiburannya sedemikian rupa sehingga diharapkan mampu memikat penontonnya selama pertunjukan. Lihat saja, di berbagai tempat yang melangsungkan pementasan wayang kulit, jika bukan dalang ‘ternama’ apalagi yang dilakonkan adalah kisah “pitutur”, bisa diramalkan sepi penonton; sebaliknya jika ada campursari atau dangdut atau pelawak/pesohor tv yang ikut tampil, penonton akan melimpah.

07. Secara sambil lalu, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa agaknya kita tak boleh terlalu berharap bahwa nilai-nilai moral yang ditawarkan wayang kepada penontonnya akan langsung bisa diterima. Kalaupun ada, tentu saja tak sebesar di masa pementasan wayang belum punya saingan di bidang seni tontonan. Dengan kata lain, sebagus apapun nilai yang ditawarkan oleh wayang kepada penontonnya saat ini, nyaris tidak berbekas atau mewujud dalam tata kehidupan masyarakat sehari-hari; apalagi konteks tatanan moral bagi seluruh masyarakat Indonesia dewasa ini.

08. Kembali ke persoalan semula, kita melihat adanya keterkaitan antara pesan moral yang ditawarkan pementasan wayang kulit kepada penontonnya. Namun, yang perlu kita cermati lebih jauh adalah siapa sebenarnya penonton wayang kulit kita tersebut. Kalangan usia berapa, tinggal di wilayah sosio-kultural mana, golongan ekonomi apa, dan tentu saja dikaitkan dengan motif atau alasan mengapa mereka mau menonton wayang kulit semalam suntuk. Dari ‘pemetaan’ seperti itu tentunya bisa diharapkan ‘strategi’ yang lebih baik , khususnya dalam hal transformasi nilai-nilai moral dalam sebuah pementasan wayang kulit.

[1] ) Dalam tulisannya tentang “Citra Bima dalam Kebudayaan Jawa”, Woro Aryandini S. menyebut bahwa Prasasti Wukajana (thn 930 Masehi) mengungkapkan adanya pementasan wayang dengan lakon Bima Kumara.

Kategori:Seni & Budaya
  1. 25 Juni 2011 pukul 08:08

    Yeah, majukan nilai-nilai budaya Indonesia
    Bersama, kita bisaa
    Wayang kulit is never die…

    • masgonst
      25 Juni 2011 pukul 14:59

      pasti bisa…..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: